Fitrah Bersama Alam


"Forget not that the earth delights to feel your bare feet 
and the winds long to play with your hair."
~ Kahlil Gibran ~


Percepatan jaman menarik manusia dengan segala kompleksitasnya. Siap atau tidak. Rasanya selalu saja kita merasa kurang cepat mengikuti iramanya. Terlalu tergesa-gesa. Teknologi barupun diciptakan untuk membantu manusia melewati jamannya. Sumber daya alam dieksplorasi demi memenuhi kebutuhan manusia.

Alam.. yang menyediakan tanahnya untuk kakimu berpijak, yang meniupkan anginnya untuk bermain dengan rambutmu, dan menemani setia para nelayan mencari ikan, yang menyediakan air untuk menghapus dahagamu. Tapi apa yang kita lakukan sekarang? Kita tidak lagi belajar dari alam. Melulu menjadikannya alat untuk memenuhi kebutuhan semata. Lupa kita dengan kearifan lokal yang diyakini oleh leluhur kita. Bagaimana mereka menghidupi diri tapi tetap menghargainya, memeliharanya. Sadar betul bahwa manusia adalah bagian dari alam. Seperti kearifan hidup suku Baduy, di ujung Barat pulau Jawa. Atau para suku anak dalam di  Sumatera Selatan. Mereka yang hidup mandiri, kukuh menjaga adat istiadat dan mengharmonisasikan kehidupan dengan alam. Betapa alam mereka sangat terjaga. Tetap lestari selama ribuan tahun.

Mereka, yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal tapi belajar langsung seumur hidupnya bersama alam, sehingga alam mereka tetap terjaga baik, tak pernah terlanda bencana alam. Tak repot mereka menyerukan penyelamatan lingkungan. Namun nyata perbuatan mereka melestarikan alam. Mereka hidup dari hasil cocok tanam sendiri, menenun sendiri kain pakaian, memproduksi alat-alat rumah tangga, alat-alat bercocok tanam, memainkan dan menikmat karya seni. Tanpa sepeser pun anggaran pemerintah, mereka tetap subur makmur gemah ripah loh jinawi.

Kita, yang mengaku sebagai masyarakat modern, yang telah mengenyam pendidikan modern, justru sering bertindak tidak bijaksana dalam memanfaatkan alam sekitar. Kita cenderung hanya tahu mengeksploitasi tanpa henti. Tidak peduli menghabiskannya tak bersisa. Hutan-hutan menjadi gundul, gunung menjadi kawah, persawahan dan pantai menjelma menjadi bangunan. Udara segar pun kini makin terbatas. Jika dahulu orang memakai masker hanya ada dalam film-film, kini pemandangan seperti itu kita jumpai sehari-hari.

Jika saja semua makhluk hidup dimuka bumi ini, termasuk hewan, tumbuhan, bahkan sumber daya alam  termasuk, air, udara, mineral tambang, dan sebagainya bisa bicara dalam satu bahasa, mungkin sudah terjadi demonstrasi besar-besaran dari mereka atas ketidakadilan perlakuan kita selama ini kepada mereka.

semoga kita bisa lebih arif terhadap alam di sekitar kita, dan mulai memanfaatkannya dengan bijak. Seperti yang diamanahkan Sang Maha Pencipta kepada kita. Save the earth, save our generation!


Comments