Memimpin dengan Hati



 Setiap orang adalah pemimpin itu betul. Setidaknya menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Saat seseorang menjadi pemimpin bagi orang lain, baik di sebuah organisasi, perusahaan ataupun dalam masyarakat, kepemipinan (leadership) mutlak diperlukan. Kepemimpinan memang tidak lahir begitu saja. Pemimpin besar sekalipun, tidak semua lantas mempunyai jiwa kepemimpinan. Tapi semua orang bisa belajar. Karena kemimpinan adalah sebuah proses yang digunakan untuk memunculkan yang terbaik dari dalam diri mereka dan dari dalam diri orang lain (M. Kouzes dan Barry Z. Posner).   
Di dalam suatu organisasi, sosok seorang pemimpin memegang peranan penting untuk menentukan langkah dan strategi yang harus diambil dalam mencapai tujuan organisasi. Sebagai pemimpin, ia memiliki kewajiban untuk mendorong orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (visi).
Tidak jarang, dengan keterbatasan yang dimiliki oleh tim, baik dari segi waktu dan jumlah anggota yang tersedia, seorang pemimpin harus mampu untuk mengambil langkah yang tepat untuk mencapai hasil yang semaksimal mungkin. Kadang kebutuhan kondisi ideal terdesak akan tuntutan hasil maksimal yang ingin dicapai. Lalu kita melupakan faktor-faktor lain yang juga penting. Perasaan.
Para pengikut tidak akan bekerja maksimal jika pemimpin mereka membuat mereka merasa lemah, memiliki ketergantungan, atau terasingkan. Perilaku dan sikap pengikut akan menentukan keberhasilan seorang pemimpinan (Hendry Satriago – Presiden General Electric Indonesia). Begitu pula sebaliknya. Karena keberhasilan organisasi bukan karena usaha sendiri, tetapi karena upaya bersama. Tanpa pengikut, pemimpin tidak ada.

Karena itu, peran pemimpin tidak hanya memimpin. Ia juga harus bisa mengarahkan, memberdayakan dan membimbing para pengikutnya. Pemimpin juga harus bisa membina hubungan dan interaksi kerja yang baik dalam organisasinya. Dan yang utama, memimpin dengan hati.
Ada banyak cerita kesuksesan perusahaan karena pemimpin mereka yang memimpin dengan hati. Rich Teerlink, mantan CEO Harley Davidson yang berhasil membangkitkan Harley Davidson menjadi satu merk popular di dunia setelah keterpurukannya di awal tahun delapan puluhan. Pembenahan yang dilakukan ternyata hampir semuanya difokuskan untuk membenahi sumber daya manusia dan organisasi. Dalam hal kepemimpinan misalnya. Para pemimpin tidak hanya menuntut kepada para bawahannya, namun juga mau bertanya apa yang diinginkan dan dibutuhkan mereka. Para pemimpin lebih mendengarkan bawahannya dan tidak lagi ‘menendang’ mereka yang dianggap membangkang. Meski tidak sedikit energy dan biaya yang dihabiskan untuk memperbaiki hubungan dengan para pekerja, gaya kepemimpinan baru Teerlink ini membuahkan kesuksesan yang bertahan hingga saat ini. Semoga kita semua bisa belajar dari Teerlink dan dari kearifan para pemimpin sukses lainnya. (DY)



Comments